Sejarah

Di minangkabau ada ungkapan tambo  “Dari mano titik palito diteloang nan batali, dari mano asa niniak moyang kito dari puncak gunung Merapi” .  Menurut sejarahnya, bahwa ninik moyang orang Minangkabau turun dari gunung Merapi ke Pariangan Padang Panjang yang disebut “Nagari Tuo” . 

Begitu juga dengan Nagari Andaleh yang berjarak  8 km dari Nagari Tuo tersebut.  Nenek moyang kita menyebar dengan berjalan kaki dengan bantuan tongkat dari ranting kayu untuk berjalan kaki, karena  lelahnya berhenti dan menetaplah mereka di suatu wilayah. Hari berganti, bulan  demi bulan berganti, untuk menyambung hidup  mereka bercocok tanam.  Sembari mengamati sekelilingnya, terlihat lah suatu daerah disekitar itu sembari berkata “andeh lai rancaknyo dibawah ko”. 

Dengan bantuan tongkat dari ranting kayu,  berjalanlah mereka ke daerah tersebut  dan berujar “andeh lai sejuknyo “.  Lalu dipancangkanlah tongkatnya dan karena kelelahan tertidurlah mereka. Setelah terbangun tidur sambil berujar  “andeh lai lamaknyo”  seraya melepas pandangan ke indahnya Danau Singkarak dari kejauhan,  kearah Selatan tampak pegunungan Bukit Barisan,  kearah barat tampak jelas Gunung Singgalang dan Tandikek  dan dan dari arah utara terlihat kokohnya Gunung Merapi.

“Andeh lai Rancaknyo daerah ko “, dengan hati yang gembira mereka memboyong seluruh  keluarganya untuk pindah ke nagari ini. Seiring berjalannya waktu, hari berganti teringatlah ranting kayu untuk tongkat yang dulu pernah ditancapkan. Tongkat kayu tersebut ternyata  sudah tumbuh menjadi sebuah pohon.

Andeh lai kekuasaan Allah tungkek ambo tingga dulu alah menjadi kayu”.

Pohon itu kemudian dinamakan “KAYU ANDALEH dan keluarga tambah banyak dan sama-sama membangun daerah itu.  Daerah itu kemudian dinamakan dengan nama ANDALEH  karena adanya kayu Andaleh yang tumbuh itu di tengah-tengah pemukiman masyarakat memberi manfaat. Ini juga sesuai dengan salah satu pituah  Minangkabau  :

Kayu gadang di tengah koto, urek nyo tampek baselo, batang nyo tampek basanda, dahannyo tampek bagantuang, daun nyo tampek balindung kepanean dan tampek bataduah kehujanan, buah babungo labek, buah manih bisa di makan anak nagari, bungo nyo harum mamikat hati.

Oleh karena karena seringnya menyebut Andeh lai  dan  tongkat yang telah menjadi pohon dengan nama kayu Andaleh, maka bernamalah nagari ini  “ANDALEH” .